CeritaMiliter Kompas.tv - Sistem Senjata Armada Terpadu (Integrated Fleet Weapons System)

CeritaMiliter Kompas.tv - Sistem Senjata Armada Terpadu (Integrated Fleet Weapons System)
BismillahirRahmanirRahim

KOMPAS.TV - Kekuatan TNi Angkatan Laut ke depan akan semakin kompleks dengan mengintegrasikan berbagai unsur kekuatan dalam Sistem Senjata Armada Terpadu. Ancaman yang dihadapi pun tidak hanya berasal dari laut, tetapi telah berkembang menjadi lintas domain. Dalam implementasinya, TNi Angkatan Laut melaksanakan operasi sepanjang tahun untuk menguji kesiapan dan kemampuan setiap unsur. Hal ini dilakukan karena tantangan ke depan akan semakin kompleks dan multidimensi. Kali ini, tim #CeritaMiliter akan menuju Blok Ambalat yang berbatasan dengan Malaysia untuk melihat langsung implementasi Sistem Senjata Armada Terpadu dalam menjaga wilayah perbatasan.
Saksikan selengkapnya #CeritaMiliter episode "SiSTEM SENJATA ARMADA TERPADU (Integrated Fleet Weapons System)"
Bersama Host Jonah Hamonangan dan Narasumber:
  1. Kolonel Laut (P) Adam Firmansyah (Komandan Wing Udara 2 PUSPENERBAL)
  2. Kapten (MAR) Aldi Martino (Komandan SATGAS Marinir Ambalat XXXi)
  3. Mayor Laut (E) Dhaesa Pramana (WADAN Skadron Udara 700 Wing Udara 2 PUSPENERBAL)
  4. Kolonel Laut (P) Priyatna Maulana Malik (Komandan LANAL Nunukan)
  5. Kapten Laut (S) Sugeng Tri Mulyanto (Komandan POSAL SEi Pancang)
  6. Laksamana Muda Tni Yayan Sofian (Asisten Operasi KASAL)
Sabtu, 11 Apri; 2026 (22 Syawal 1447 Hijriyah). Pukul 15:00 WiB di KompasTV!.

Watch Streamed at @KOMPASTV Official!





DiSCLAiMER!
"Kebijaksanaan penonton sangat diharapkan (Viewer discretion is advised)."
"Pandangan dan opini yang disampaikan oleh para narasumber dalam program ini adalah sepenuhnya milik pribadi (narasumber) dan tidak mencerminkan kebijakan atau pandangan dari penulis
(All views, opinions, and arguments expressed by the speakers are their own and do not reflect the stance of the editorial team").


Courtesy: KOMPASTV © 2026
#CeritaMiliter #KompasTV #CeritaMiliterKompasTV #TNiAL #SenjataRahasia

Download M4A Audio xHE-AAC


  • File Name: 20260411_CeritaMiliter - #Sistem Senjata Armada Terpadu xHE-AAC.KOMPASTV-HD.m4a
  • File Info: 17.3 MiB, M4A-Audio, # Hour(s) 46 min 53 sec, Exhale 1.2.2-c33cf75b, USAC, xHE-AAC.eSBR+Preset #b, 50.8 kb/s, Variable, 2 channels, 48.0 KHz
  • Source: SOGO Royal DVBT2 (32MB) Devices
    MPEG-TS, AVC, High@L4, 3600 kb/s, 1920x1080 pixels, 25.000 FPS, 8 bits
    MPEG, Version 1, Layer 2, Constant, 128 kb/s, 2 channels, 48.0 kHz, Delay -98 ms
  • Download Link: [https://1024terabox.com/s/1l1h5kW2a08KirwtvIOvWRQ]

Google Ai (Mode) Overview


Program Cerita Militer KompasTV bertema Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) menyoroti strategi TNi AL dalam mengintegrasikan empat elemen kekuatan—kapal atas air, kapal selam, pesawat udara, dan Marinir—untuk menghadapi ancaman multidimensi di laut. Pembahasan fokus pada modernisasi teknologi dan kesiapan operasional di wilayah strategis, termasuk implementasi di Blok Ambalat.
:
: Update terbaru mengenai Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) per April 2026 menekankan pada integrasi lintas domain dan modernisasi alutsista strategis untuk menghadapi ancaman multidimensi.
: Berikut adalah poin-poin perkembangan terkini SSAT:
  1. Fokus Operasional 2026:
    • Siaga 1 & Patroli Obvit: Berdasarkan perintah Panglima TNi sejak Maret 2026, unsur SSAT dikerahkan untuk patroli intensif di objek vital strategis seperti pelabuhan laut dan sentra ekonomi.
    • Operasi Sepanjang Tahun: TNi AL kini melaksanakan operasi kontinu untuk menguji kesiapan integrasi antara KRi, pesawat udara, Marinir, dan Pangkalan di wilayah perbatasan.
    • Operasi Trisila 2026: Satuan Tugas Operasi Trisila telah dikerahkan ke wilayah Indonesia Timur (seperti Mimika, Papua) untuk menegakkan kedaulatan maritim.
  2. Modernisasi Alutsista (Hingga 2026):
    • Kapal Perang Baru: Prioritas utama tahun 2026 adalah penambahan armada kapal fregat dan kapal selam. Indonesia juga sedang memproses penerimaan hibah kapal induk Giuseppe Garibaldi dari Italia untuk memperkuat proyeksi kekuatan udara di laut.
    • Kapal Cepat Rudal (KCR): Pembangunan unit KCR 70 meter hasil kerja sama dengan Turki terus berlanjut, dilengkapi teknologi propulsi canggih dan rudal anti-kapal.
    • Korps Marinir: Direncanakan adanya penambahan tank amfibi BMP-3F, sistem peluncur roket (MLRS) terbaru, dan sistem pertahanan pantai (coastal defence).
  3. Strategi Jangka Panjang (2025-2044):
    • TNi AL telah mematangkan konsep Postur Kekuatan Tempur 20 tahun ke depan yang diselaraskan dengan kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat pertahanan maritim menuju Indonesia Emas 2045.
    • Terdapat rencana pengembangan menjadi 5 Armada TNi AL (dari saat ini 3 Armada) dalam target pembangunan 2025-2029.
Hingga April 2026, modernisasi alutsista untuk memperkuat elemen Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) berfokus pada penguasaan teknologi "Blue Water Navy" dengan menghadirkan kapal-kapal berukuran besar dan berkemampuan tempur multimisi.
: Berikut adalah rincian spesifikasi teknis alutsista baru yang memperkuat TNi AL:
  1. Kapal Patroli Lepas Pantai (PPA) / Fregat Ringan
    : Indonesia telah mengoperasikan dua unit kapal jenis Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) buatan Fincantieri Italia, yaitu KRi Brawijaya-320 dan KRi Prabu Siliwangi-321.
    • Dimensi: Panjang 143 meter dan lebar 16,5 meter.
    • Kecepatan: Maksimum hingga 32 knot dengan sistem pendorong kombinasi diesel, elektrik, dan gas turbin.
    • Persenjataan Utama:
      1. Artileri: Meriam utama OTO Melara 127/64 LW Vulcano (terbesar di jajaran TNi AL saat ini) dan meriam 76 mm.
      2. Rudal: 16 sel Vertical Launch System (VLS) untuk rudal pertahanan udara (SAM) dan 8 peluncur rudal anti-kapal Teseo Mk-2E.
      3. Lainnya: Tabung torpedo dan sistem peperangan elektronika canggih.
  2. Kapal Induk / Drone Carrier (Eks-Giuseppe Garibaldi)
    : Kapal induk Giuseppe Garibaldi merupakan hibah dari pemerintah Italia yang tengah menjalani proses retrofit teknologi untuk kebutuhan TNi AL.
    • Dimensi & Bobot: Panjang 180,2 meter, lebar 33,4 meter, dengan berat sekitar 14.000 ton.
    • Kecepatan: Mampu melaju hingga 30 knot ditenagai 4 turbin gas GE/Avio LM2500.
    • Kapasitas Udara: Dilengkapi dek ski-jump untuk mendukung operasi hingga 18 helikopter atau pesawat STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing). Ke depannya, kapal ini akan difungsikan sebagai kapal induk drone (UAV) dan markas komando operasi.
    • Pertahanan Diri: Dilengkapi peluncur rudal Sea Sparrow/Aspide, meriam 40mm DARDO CiWS, dan tabung torpedo 324mm.
  3. Kapal Selam Scorpène Evolved
    : TNi AL sedang dalam proses pengadaan kapal selam Scorpène Evolved melalui kerja sama PT PAL dan Naval Group Prancis yang menggunakan teknologi baterai mutakhir.
    • Dimensi: Panjang sekitar 71-72 meter.
    • Teknologi Baterai: Menggunakan Full Lithium-Ion Battery yang memungkinkan masa selam lebih lama (hingga 80 hari) dan pengisian daya yang lebih cepat.
    • Persenjataan: 6 tabung peluncur yang dapat membawa hingga 18 senjata, termasuk torpedo Black Shark, torpedo F21, dan rudal anti-kapal SM39 Exocet.
    • Kemampuan Stealth: Memiliki tingkat kebisingan rendah (indiscretion rate 4,5%) sehingga sulit terdeteksi oleh sensor akustik lawan.
  4. Kapal Cepat Rudal (KCR) 70 Meter
    : Kapal ini merupakan hasil kerja sama dengan Sefine Shipyard Turki untuk memperkuat armada pemukul reaksi cepat.
    • Kecepatan: Dirancang untuk melaju sangat cepat, melebihi 40 knot.
    • Misi: Dioptimalkan untuk operasi pengintaian (iSR), serangan anti-permukaan, dan pertahanan udara di wilayah perairan dangkal maupun pesisir.
Penempatan alutsista baru dalam Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) hingga April 2026 disesuaikan dengan strategi pengembangan kekuatan laut Indonesia yang kini mengarah pada pembentukan pangkalan-pangkalan strategis baru.
: Berikut adalah detail lokasi penempatan dan rencana pangkalan alutsista tersebut:
  1. Pangkalan Kapal Fregat PPA (KRi Brawijaya & KRi Prabu Siliwangi)
    : Dua kapal fregat terbesar di Asia Tenggara ini direncanakan untuk ditempatkan di wilayah yang mampu mendukung operasional kapal berukuran besar:
    • Koarmada II, Surabaya (Jawa Timur): Menjadi pangkalan utama bagi KRi Brawijaya-320 dan KRi Prabu Siliwangi-321. Lokasi ini dipilih karena memiliki fasilitas galangan dan pemeliharaan yang paling lengkap untuk mendukung kapal fregat canggih.
    • Wilayah Operasi: Meskipun berbasis di Surabaya, KRi Brawijaya-320 ditugaskan untuk mengawal wilayah Timur hingga Papua, sedangkan KRi Prabu Siliwangi-321 difokuskan untuk patroli di wilayah Barat, termasuk Jakarta hingga Laut Natuna Utara.
  2. Pangkalan Kapal Selam (Scorpène Evolved)
    : Untuk kapal selam terbaru kelas Scorpène, TNi AL tengah menyiapkan infrastruktur pangkalan yang spesifik:
    • Pangkalan Utama TNi AL (Lantamal) Vi, Palu (Sulawesi Tengah): Direncanakan sebagai pangkalan utama kapal selam karena kedalaman lautnya yang ideal untuk operasi kapal selam diesel-elektrik.
    • Surabaya: PT PAL Indonesia di Surabaya menjadi lokasi pembangunan kedua kapal selam tersebut, yang juga berfungsi sebagai pusat pemeliharaan berkala (overhaul) di masa depan.
  3. Pengembangan 5 Armada (Pangkalan Koarmada Baru)
    : TNi AL sedang mengimplementasikan rencana pembentukan dua komando armada baru untuk melengkapi tiga armada yang sudah ada:
    • Koarmada iV, Kalimantan Timur: Direncanakan untuk mengamankan wilayah Ibu Kota Nusantara (iKN) dan jalur Alur Laut Kepulauan indonesia (ALKi) II.
    • Koarmada V, Ambon (Maluku): Fokus pada penguatan pertahanan di wilayah Indonesia Timur guna menghadapi tantangan keamanan di perairan pasifik.
  4. Pangkalan Strategis Lainnya
    • Tanjung Uban (Kepulauan Riau): Menjadi lokasi penempatan berbagai unsur SSAT, termasuk KRI dan unit pendukung logistik, untuk memperkuat pengawasan di Selat Malaka dan Laut Natuna Utara.
    • Tanjung Pinang (Kepulauan Riau): Berfungsi sebagai pusat komando Koarmada I yang telah dipindahkan dari Jakarta untuk memudahkan pemantauan wilayah strategis perbatasan.
Skadron Udara 700 merupakan satuan di bawah Wing Udara 2 PUSPENEBERBAL yang bermarkas di Lanudal Juanda, Sidoarjo. Skadron ini memiliki peran vital sebagai operator utama Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA) atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk mendukung misi Intelligence, Surveillance, Target Acquisition, and Reconnaissance (iSTAR) dalam jajaran TNi AL.:
Berikut adalah detail mengenai alutsista dan peran strategis Skadron Udara 700:
  1. Alutsista Utama (Hingga 2026)
    • Insitu ScanEagle 2: Drone intai taktis andalan hasil hibah dari Amerika Serikat yang mampu terbang lebih dari 24 jam dengan jangkauan sensor yang luas.
    • UAV HC-450 VSTOL: Drone berkemampuan Vertical Take-Off and Landing yang dipamerkan dalam HUT Ke-80 TNi (2025) untuk efisiensi operasional tanpa landasan panjang.
    • Camcopter S-100: Helikopter tanpa awak untuk pemantauan maritim yang dapat dioperasikan langsung dari dek KRi.
    • Drone Produksi Dalam Negeri: Skadron ini terlibat dalam uji coba dan pengembangan drone lokal seperti Sea Eagle SE-1, OWL-39, dan Multicopter VTOL Fixed Wing hasil riset Dislitbangal.
  2. Fungsi & Peran Strategis
    • Mata KRi: Berfungsi sebagai "mata" bagi Kapal Republik Indonesia (KRi) di tengah laut, memperluas cakrawala deteksi di luar jangkauan radar kapal.
    • Target Reporting Unit (TRU): Melaporkan posisi sasaran artileri medan secara real-time untuk meningkatkan akurasi tembakan satuan Marinir.
    • Uji Coba Perang Elektronika: Terlibat dalam pengujian alat Pernika (Jammer) pada KRi untuk menguji ketahanan sistem kendali UAV terhadap gangguan GPS dan sinyal.
    • Patroli Maritim: Melaksanakan pengawasan di wilayah perbatasan dan objek vital strategis nasional.
  3. Struktur & Kepemimpinan
    • Markas: Mako Wing Udara 2 Puspenerbal, Sidoarjo, Jawa Timur.
    • Komandan (Data Terbaru): Dipimpin oleh perwira menengah seperti Letkol Laut (P) Bani Safangat (2024) atau sebelumnya Letkol Laut (P/W) Eni Ambarsari.
Sistem peluncuran drone ScanEagle dan ScanEagle 2 pada kapal perang TNi AL (seperti KRi Abdul Halim Perdanakusuma-355) dirancang khusus untuk operasional di area sempit tanpa membutuhkan landasan pacu (runway-independent).
Berikut adalah cara kerja teknis dari dua fase utama operasionalnya:
  1. Fase Peluncuran: Pneumatic Catapult (SuperWedge)
    Karena tidak memiliki roda, ScanEagle diluncurkan menggunakan sistem pelontar pneumatik yang dikenal sebagai SuperWedge Launcher.
    • Mekanisme: Drone diletakkan pada rel peluncur. Sistem menggunakan tekanan udara tinggi untuk melesatkan drone.
    • Kecepatan: Peluncur ini mampu mendorong drone hingga mencapai kecepatan terbang minimal 25 meter per detik (sekitar 90 km/jam) dalam jarak rel yang sangat pendek.
    • Fleksibilitas: Unit peluncur dapat diputar atau digeser ke arah datangnya angin (mengarah ke samping kapal) untuk mendapatkan gaya angkat (lift) yang optimal saat lepas landas.
  2. Fase Pemulihan: Sistem Kabel (SkyHook)
    Pendaratan dilakukan dengan metode penangkapan unik yang disebut SkyHook, bukan dengan jaring atau parasut.
    • Perangkat: Sebuah tiang setinggi 15 meter (sekitar 50 kaki) didirikan di dek kapal dengan kabel penangkap yang menjuntai vertikal.
    • Proses Penangkapan:
      1. Drone terbang secara otomatis menuju kapal dipandu oleh Differential GPS (DGPS) dengan tingkat presisi sangat tinggi.
      2. Terdapat pengait khusus (hook) yang terletak di ujung sayap (wingtip) drone.
      3. Drone diarahkan untuk menabrak kabel tersebut secara sengaja. Saat kabel mengenai sayap, kabel akan meluncur ke arah ujung sayap dan otomatis terkunci oleh pengait.
    • Peredaman: Kabel terhubung ke sistem peredam kejut (shock cord) untuk menyerap energi kinetik drone yang berhenti mendadak tanpa merusak struktur badan pesawat.
  3. Inovasi Terbaru: Sistem FLARES (VTOL)
    Per April 2026, Insitu juga menawarkan opsi FLARES (Flying Launch and Recovery System).
    • Cara Kerja: Menggunakan drone multicopter (seperti quadcopter besar) yang membawa ScanEagle secara vertikal ke udara.
    • Pelepasan: Setelah mencapai ketinggian tertentu, multicopter melesat maju dan melepaskan ScanEagle untuk transisi ke penerbangan horizontal. Ini menghilangkan kebutuhan akan alat pelontar pneumatik yang memakan tempat di dek kapal.
Membandingkan sistem SkyHook (yang digunakan ScanEagle di Skadron 700) dengan metode Jaring (Recovery Net) yang sering digunakan drone taktis lain (seperti seri Schiebel S-100 atau drone lokal) sangat menarik karena keduanya dirancang untuk keterbatasan dek kapal perang.
Berikut adalah perbandingan kelebihan dan kekurangannya:
  1. Sistem SkyHook (Kabel Vertikal)
    Sistem ini menggunakan kabel tipis yang menjuntai vertikal untuk "menangkap" pengait di ujung sayap drone.
    • Kelebihan Utama:
      1. Akurasi Tinggi: Menggunakan Differential GPS (DGPS), drone bisa diarahkan menabrak kabel dengan presisi sentimeter.
      2. Keamanan Struktur: Karena hanya ujung sayap yang terkait, badan utama drone (yang berisi kamera dan sensor mahal) tidak membentur benda keras, sehingga lebih awet.
      3. Efisiensi Ruang: Tiang SkyHook bisa dilipat atau diletakkan di pinggir dek, sehingga tidak menghalangi operasional helikopter berawak di dek utama.
      4. Tahan Cuaca: Tetap efektif dalam kondisi angin kencang atau kapal yang bergoyang (rolling/pitching) karena kabel bersifat fleksibel.
    • Kekurangan: Membutuhkan sistem navigasi otomatis yang sangat canggih; jika meleset sedikit saja, drone bisa jatuh ke laut.
  2. Metode Jaring (Recovery Net)
    Drone terbang rendah dan sengaja menabrakkan diri ke jaring besar yang dibentangkan di dek kapal.
    • Kelebihan Utama:
      1. Sederhana: Tidak membutuhkan pengait khusus pada sayap drone.
      2. Target Lebih Luas: Jaring memberikan "area tangkap" yang lebih lebar dibandingkan seutas kabel tunggal, sehingga toleransi kesalahan navigasi lebih besar.
      3. Biaya Rendah: Secara mekanis lebih murah diproduksi dibandingkan sistem SkyHook yang memiliki sistem peredam kejut kompleks.
    • Kekurangan:
      1. Risiko Kerusakan: Benturan dengan jaring secara berulang dapat merusak sensor, baling-baling, atau antena yang menonjol di badan drone.
      2. Memakan Tempat: Jaring yang terbentang seringkali menutup seluruh area dek pendaratan, sehingga menghambat aktivitas lain di kapal.
      3. Bahaya Angit: Jaring besar bertindak seperti layar; jika angin sangat kencang, struktur jaring bisa menjadi tidak stabil.
Tabel Perbandingan Singkat
Fitur SkyHook (ScanEagle) Metode Jaring (Net)
Keamanan Sensor Sangat Aman (bebas benturan) Berisiko (tertekan jaring)
Presisi Pendaratan Harus Sangat Tinggi Toleransi Sedang
Operasional Dek Tidak Mengganggu Sangat Mengganggu
Kebutuhan Teknologi Tinggi (DGPS/Otomatis) Menengah (Manual/Semi-Auto)
Kesimpulan: TNi AL memilih SkyHook untuk ScanEagle karena efisiensi ruang di atas KRi dan untuk melindungi investasi sensor pengintai yang harganya sangat mahal.

Update terkini per April 2026 menunjukkan bahwa implementasi Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) telah bertransformasi menjadi sistem pertahanan lintas domain yang lebih proaktif dan terintegrasi secara digital.
Berikut adalah poin-poin utama implementasi SSAT dalam menjaga wilayah perbatasan NKRi:
  1. Operasi Kontinu dan Terpadu 2026
    TNi AL kini tidak lagi hanya melakukan patroli sporadis, melainkan operasi sepanjang tahun yang menguji keterpaduan antara KRi, pesawat udara (UAV), Marinir, dan dukungan Pangkalan secara simultan.
    • Satgas Operasi Trisila 2026: Unit tugas ini telah dikerahkan ke wilayah Indonesia Timur, termasuk Mimika, Papua, untuk menunjukkan kehadiran kekuatan armada di wilayah perbatasan.
    • Passex di Ambalat: Melibatkan koordinasi taktis antara berbagai jenis kapal (seperti KRi Badik-623 dan KRi Pulau Rimau-724) untuk memastikan wilayah sengketa tetap dalam kendali kedaulatan Indonesia.
  2. Penguatan Pengawasan Udara (UAV iSTAR)
    Skadron Udara 700 berperan sebagai penyedia data intelijen real-time bagi kapal perang di garis depan perbatasan.
    • Target Reporting Unit (TRU): Penggunaan drone ScanEagle 2 kini diintegrasikan langsung dengan sistem senjata kapal untuk melaporkan posisi target secara presisi.
    • Penegakan Hukum Laut: Drone intai digunakan di wilayah kerja seperti Lantamal Viii Manado.
    • untuk mendeteksi pelanggaran kedaulatan dan penyelundupan di perbatasan utara sebelum unit KRi atau Marinir melakukan intersepsi.
  3. Transformasi Struktur Komando Armada
    Rencana pembentukan Koarmada iV (Kalimantan Timur) dan Koarmada V (Ambon) merupakan langkah konkret untuk mendekatkan elemen SSAT ke titik-titik rawan perbatasan.
    • Setiap komando baru ini akan dirancang secara mandiri dengan memiliki unsur logistik, satuan tempur (KRi/Kapal Selam), dan satuan udara yang beroperasi secara terpadu di wilayah tanggung jawab masing-masing.
  4. Digitalisasi dan "Smart Defense"
    TNi AL sedang memperkuat implementasi sistem yang memungkinkan pemantauan logistik dan kebutuhan operasional secara real-time di pangkalan perbatasan. Ini mendukung konsep Smart Defense terutama di wilayah strategis dekat Ibu Kota Nusantara (iKN) melalui Lantamal Xiii Tarakan.
  5. Fokus Pengamanan Objek Vital Nasional (Obvitnas)
    Implementasi terbaru juga mencakup penyiagaan penuh unsur SSAT untuk mengamankan jalur pelayaran strategis dan lintasan terpadat guna membantu pemerintah menjamin keamanan ekonomi di wilayah perairan.
Semoga bisa membantu Anda memahami lebih dalam mengenai Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) dan peran krusial Skadron Udara 700 dalam menjaga kedaulatan maritim Indonesia. Integrasi antara kapal perang (KRi), pesawat udara, marinir, dan pangkalan memang menjadi kunci kekuatan TNi AL dalam menghadapi tantangan pertahanan modern di masa depan.
Saksikan ulasan selengkapnya melalui Livestreaming YouTube #KompasTV!

Have a great day! ✨🌙

Google Ai (Mode) can make mistakes, so double-check responses.

Related Articles: [Show]





Bagi Sahabat(2x) yang ingin & berbagi dipersilahkan untuk melangkapi, dengan menuliskan komentar di bawah :)

Semoga Bermanfaat, Terima Kasih !!!
Jazakumullohu Khouiron Katsiron


Thanks for Stopping By !
#FreePalestine #StayHealty #BeHappy
wp-thanks



Comments

Popular posts from this blog

Marhaban Ya Ramadhan !

Kultum (Tausiah) dan Sholat Tarawih di Masjid Daarut Tauhiid Bandung

MeGUi 6.6.6.6 Development Updates Software