Bola Liar KOMPASTV - Perang AS-Iran Belum Berakhir Terganjal Isu Nuklir
BismillahirRahmanirRahim

Promotional graphic for BolaLiar Kompas.TV Image Generated by Nano Banana 2 - Pembuat gambar & editor foto Ai (Gemini) Google
Images generated by Ai may be inaccurate, misleading, or offensive.

KOMPAS.TV - Insiden baku serang antara unit militer Amerika Serikat dan Iran terjadi kedua kalinya, di tengah kemungkinan perundingan putaran kedua. 3 kapal perusak Amerika yang mencoba melintasi Selat Hormuz, diserang angkatan laut Iran menggunakan misil antikapal, drone, dan kapal boat. Mengapa isu program nuklir Iran dan blokade Selat Hormuz, berpotensi mengganjal perdamaian dan pengakhiran perang?
Simak pembahasannya dalam #BOLALiAR episode “PERANG AS—IRAN BELUM BERAKHiR TERGANJAL iSU NUKLiR”
Jumat, 8 MEi 2026 (21 Dzulkaidah Hijriyah) pukul 20.30 WiB, LiVE di KompasTV!.
Sumber by https://x.com/KompasTV/

Watch Streamed at @KOMPASTV Official!





DiSCLAiMER!
"This program is classified as Mature (M) content. For minors, please be accompanied by a parent or guardian.
All views, opinions, and arguments expressed by the speakers are their own and do not reflect the stance of the author.
Viewer discretion is strongly advised, and we encourage a critical and wise interpretation of the information presented."

Courtesy: KOMPASTV © 2026
#BOLALiAR #KOMPASTV #BolaLiarKompasTV #Geopolitik #ASvsIran #SelatHormuz #KrisisEnergi #BolaLiarKompasTV #AnalisisGlobal #InfoTerkini #HukumInternasional

Google Ai (Mode) Overview


Narasi mengenai narasi "Perang AS-Iran Belum Berakhir Terganjal Isu Nuklir" mencerminkan situasi geopolitik yang sangat tegang pada Mei 2026. Meskipun ada upaya diplomasi melalui mediasi pihak ketiga seperti Pakistan, isu nuklir tetap menjadi batu sandungan utama yang menghalangi perdamaian permanen.
Berikut adalah poin-poin utama yang menjelaskan narasi tersebut berdasarkan perkembangan terbaru:
  1. Kebuntuan Diplomasi dan "Garis Merah" Nuklir
    Hingga awal Mei 2026, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih diwarnai kebuntuan (deadlock) karena perbedaan prinsipil yang tajam:
    • Tuntutan AS: Di bawah pemerintahan Donald Trump, AS menuntut penghentian total pengayaan uranium oleh Iran, penyerahan seluruh cadangan uranium, serta pemeriksaan tanpa batas oleh Badan Energi Atom Internasional (iAEA).
    • Posisi Iran: Teheran menegaskan bahwa pengayaan uranium untuk tujuan damai adalah hak sah mereka di bawah Perjanjian Non-Proliferasi (NPT). Pejabat tinggi Iran menyatakan tidak akan menyerah pada pemaksaan terkait program nuklir mereka.
  2. Perkembangan Menuju Kesepakatan Awal
    Meskipun masih bersitegang, ada sinyal optimisme yang hati-hati pada pekan pertama Mei 2026:
    • Draft Nota Kesepahaman (MoU): Laporan terbaru menyebutkan kedua negara sedang meninjau kerangka kerja singkat sepanjang satu halaman untuk mengakhiri perang.
    • Poin Kompromi Sementara: Kesepakatan awal ini kemungkinan mencakup penghentian sementara pengayaan nuklir oleh Iran sebagai imbalan atas pencabutan sebagian sanksi ekonomi dan pembukaan blokade di Selat Hormuz.
    • Mediasi Pakistan: Pakistan menjadi jalur komunikasi utama yang menyusun proposal dua tahap: gencatan senjata segera yang diikuti dengan kesepakatan komprehensif.
  3. Hambatan Selain Nuklir
    Selain masalah nuklir, terdapat beberapa faktor lain yang membuat perang ini sulit berakhir sepenuhnya:
    • Selat Hormuz: Iran bersikeras tetap memegang kendali penuh atas navigasi di selat ini dan menuntut pasukan asing (AS dan Eropa) pergi dari wilayah tersebut.
    • Rudal dan Aliansi Regional: AS mengkhawatirkan kemampuan rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok militan di Timur Tengah, sementara Iran menuntut ganti rugi perang dan pengakhiran agresi permanen.
Ringkasan Status Terkini (Mei 2026)
Aspek Status
Gencatan Senjata Berjalan secara rapuh namun efektif untuk sementara.
Negosiasi Iran sedang meninjau proposal terbaru dari AS yang disampaikan lewat Pakistan.
Isu Utama Penghentian pengayaan uranium vs. hak kedaulatan nuklir Iran.

program "Bola Liar" KompasTV yang tayang malam ini, Jumat, 8 Mei 2026 pukul 20:30 WiB, fokus diskusi akan bergeser pada eskalasi terbaru setelah kegagalan proposal damai pekan lalu.
  1. Daftar Narasumber (Edisi 8 Mei 2026)
    Berdasarkan rilis terbaru, narasumber yang dijadwalkan hadir untuk membedah tema kebuntuan diplomasi dan ancaman perang darat adalah:
    • Wibawanto Nugroho Widodo, Ph.D. (Pakar Geopolitik & Keamanan Nasional): Akan mengulas strategi "Maximum Pressure" versi terbaru Trump dan implikasinya bagi pertahanan regional.
    • Anton Aliabbas (Kepala Center for Intermestic and Diplomatic Engagement/CiDE): Fokus pada detail teknis kegagalan negosiasi Islamabad dan isu penarikan pasukan di Lebanon.
    • Hikmahanto Juwana (Guru Besar Hukum Internasional Ui): Memberikan pandangan hukum terkait tenggat waktu (deadline) 30 hari yang diberikan Iran kepada AS untuk membuka blokade.
    • Hasibullah Satrawi (Pengamat Politik Timur Tengah): Menganalisis stabilitas internal Iran di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei saat ini.
  2. Update Terkini Kondisi Selat Hormuz (8 Mei 2026)
    Situasi di Selat Hormuz mencapai titik kritis hari ini dengan beberapa perkembangan penting:
    • Baku Tembak AS-Iran: Donald Trump mengonfirmasi melalui Truth Social bahwa tiga kapal perusak AS berhasil melewati selat tersebut di bawah tembakan Iran hari ini tanpa kerusakan, namun ia mengklaim serangan balasan AS menyebabkan "kerusakan besar" pada pihak Iran.
    • Status Jalur Pelayaran: Meskipun laporan dari Press TV menyebut situasi mulai kembali normal di beberapa titik pesisir, Organisasi Maritim Internasional (iMO) melaporkan sekitar 1.500 kapal dan 20.000 awak kapal masih terjebak di kawasan Teluk akibat blokade.
    • Dampak Ekonomi: Harga minyak dunia (Brent) melonjak kembali ke level US$101,44 per barel per pagi ini akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi global yang berkelanjutan.
    • Target Kapal China: Untuk pertama kalinya, sebuah tanker minyak milik China dilaporkan terkena serangan di mulut Selat Hormuz awal pekan ini, meningkatkan kekhawatiran akan keterlibatan kekuatan besar lainnya.
Berikut adalah 4 alasan mengapa isu ini sangat mendesak malam ini:
  1. Kegagalan Total Diplomasi Pakistan: Malam ini adalah momen krusial untuk membedah mengapa proposal damai yang dibawa Pakistan pekan lalu akhirnya ditolak mentah-mentah oleh kedua belah pihak. Trump menolak mencabut sanksi sebelum uranium diserahkan, sementara Mojtaba Khamenei menolak inspeksi nuklir.
  2. Puncak Krisis Energi Global: Per hari ini, harga minyak menembus angka psikologis US$100 per barel. Program ini ingin menyoroti dampak langsungnya ke kantong masyarakat Indonesia (potensi kenaikan BBM/inflasi) akibat ribuan kapal tanker yang masih terjebak di Selat Hormuz.
  3. Ancaman Serangan Darat Trump: Diskusi malam ini menjadi relevan karena adanya retorika terbaru dari Gedung Putih mengenai kemungkinan invasi terbatas untuk mengamankan situs nuklir Iran jika blokade Selat Hormuz tidak dibuka dalam 72 jam ke depan.
  4. Uji Nyali Kepemimpinan Baru Iran: Publik ingin melihat bagaimana narasi "perlawanan" Mojtaba Khamenei (yang baru menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi) diuji secara militer oleh AS, dan apakah ia akan tetap bersikeras pada hak nuklir Iran meskipun di bawah ancaman kehancuran ekonomi.
Singkatnya, tema ini diangkat karena malam ini dianggap sebagai "titik nadir" hubungan AS-Iran yang paling berbahaya dalam satu dekade terakhir.

Proposal perdamaian yang dimediasi oleh Pakistan saat ini (Mei 2026) merupakan dokumen krusial yang mencoba menjembatani tuntutan keras antara Donald Trump dan Mojtaba Khamenei. Kebuntuan terjadi karena adanya dua versi proposal yang saling beradu, yaitu Proposal 14 Poin Iran dan Draft Nota Kesepahaman (MoU) AS.
Berikut adalah poin-poin inti dari proposal perdamaian tersebut yang akan dibedah di "Bola Liar" malam ini:
  1. Proposal 14 Poin dari Iran (Diajukan Awal Mei 2026)
    Iran menawarkan penghentian perang secara permanen dalam 30 hari dengan syarat-syarat utama:
    • Penghentian Blokade Laut: AS harus segera menghentikan blokade angkatan laut di perairan Iran agar kapal-kapal komersial bisa melintas bebas.
    • Penarikan Pasukan: Menuntut penarikan seluruh pasukan AS dari kawasan sekitar Iran.
    • Aset & Sanksi: Pembebasan aset Iran yang dibekukan (termasuk dana di Qatar) dan pencabutan sanksi ekonomi yang menekan Teheran.
    • Ganti Rugi Perang: Iran meminta kompensasi finansial atas dampak kerusakan selama konflik berlangsung.
    • Mekanisme Baru Selat Hormuz: Iran mengusulkan aturan baru dalam pengelolaan Selat Hormuz yang memberikan mereka kendali koordinasi lebih besar.
  2. Proposal "Dua Tahap" Pakistan & Respons AS
    Pakistan mengusulkan kerangka kerja bertahap untuk meredakan ketegangan:
    • Tahap I (Gencatan Senjata & Hormuz): Mengakhiri pertempuran fisik segera dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz untuk menstabilkan harga minyak dunia.
    • Tahap II (Isu Nuklir): Menunda diskusi nuklir yang rumit hingga 30 hari setelah perang berakhir. Namun, AS melalui Axios melaporkan draf MoU terbaru mereka menuntut ekspor uranium tingkat tinggi Iran ke negara lain sebagai syarat awal.
Mengapa Terjadi Kebuntuan?
Titik buntu yang paling tajam adalah isu kedaulatan nuklir dan tarif Selat Hormuz. Trump bersikeras agar Iran menghentikan total pengayaan uranium (3,67%), sementara Iran tetap menyatakan haknya untuk pengayaan uranium bagi tujuan damai sesuai aturan internasional. Selain itu, AS menolak mentah-mentah usul Iran yang mewajibkan kapal asing membayar "tol" atau koordinasi khusus untuk melewati Selat Hormuz.
Informasi ini menjadi bahan "Bola Panas" bagi para pengamat di KompasTV malam ini pukul 20:30 WiB untuk menilai apakah perdamaian ini nyata atau sekadar taktik mengulur waktu.

Tuntutan AS difokuskan pada penghentian pengayaan uranium dan kontrol Selat Hormuz, sementara Iran menuntut pencabutan total sanksi dan penarikan pasukan asing. Debat diperkirakan berfokus pada "Proposal 14 Poin" Iran, peran mediasi Pakistan, serta dampak situasi Teluk terhadap ketahanan energi Indonesia. Baca lebih lanjut di KompasTV.

Tabel ini merangkum titik buntu utama antara Tuntutan "Maximum Pressure" AS (Donald Trump) dan Jawaban "Resistance" Iran (Mojtaba Khamenei) yang menjadi inti perdebatan di Bola Liar malam ini:
Tabel Perbandingan Tuntutan AS vs. Balasan Iran (Mei 2026)
Isu Krusial Tuntutan Amerika Serikat (AS) Balasan/Posisi Iran (14 Poin)
Program Nuklir Penghentian total pengayaan uranium & menyerahkan cadangan ke luar negeri. Menolak penghentian; menegaskan hak pengayaan uranium untuk tujuan damai (NPT).
Selat Hormuz Kebebasan navigasi internasional penuh tanpa gangguan militer Iran. Kendali penuh di tangan Iran; menuntut kapal asing melapor & membayar "ganti rugi".
Sanksi Ekonomi Sanksi baru akan dicabut setelah ada kepatuhan nuklir yang terverifikasi. Pencabutan seluruh sanksi & pembebasan aset yang dibekukan sebagai syarat awal.
Kehadiran Militer AS tetap menempatkan armada di Teluk untuk menjaga stabilitas energi global Menuntut penarikan seluruh pasukan asing (AS/Sekutu) dari kawasan Timur Tengah.
Urusan Regional Iran harus menghentikan dukungan rudal & dana ke kelompok proksinya di kawasan. Isu regional tidak bisa dinegosiasikan; menuntut AS berhenti mencampuri kedaulatan.
Ganti Rugi Tidak ada kompensasi; Iran dianggap sebagai pemicu ketegangan. Menuntut kompensasi finansial atas kerusakan ekonomi & fisik selama perang.

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menonton Malam Ini:
  • "The One-Page Memo": Perhatikan jika narasumber membahas draft satu halaman dari Pakistan. AS ingin fokus pada logistik (pembukaan selat), sementara Iran ingin fokus pada legalitas (pencabutan sanksi).
  • Garis Merah (Red Lines): Jika salah satu pihak tidak bergeser dari poin nuklir dalam 72 jam ke depan, risiko eskalasi militer di Selat Hormuz diprediksi akan meningkat tajam.
Isu nuklir dan blokade Selat Hormuz menjadi "pengganjal" karena keduanya menyentuh titik paling sensitif dari kedaulatan Iran dan keamanan nasional Amerika Serikat.
Berikut alasan mengapa kedua isu ini sangat sulit diselesaikan:
  1. Isu Nuklir: Masalah Kepercayaan & Kelangsungan Rezim
    • Bagi Iran: Program nuklir adalah simbol kemandirian teknologi dan "asuransi" keamanan agar tidak bernasib sama seperti Libya atau Irak. Menyerahkan seluruh cadangan uranium tanpa jaminan keamanan absolut dianggap sebagai bunuh diri politik bagi pemimpin baru, Mojtaba Khamenei.
    • Bagi AS: Di bawah Donald Trump, nuklir Iran dianggap ancaman eksistensial bagi sekutu (seperti Israel). AS menuntut penghentian total karena tidak percaya Iran hanya akan menggunakannya untuk listrik. Tanpa penyerahan uranium, AS merasa perang belum benar-benar selesai karena ancaman utama masih ada.
  2. Selat Hormuz: Senjata Ekonomi vs. Hukum Internasional
    • Titik Cekik Global: Selat Hormuz adalah jalur bagi 20% pasokan minyak dunia. Iran menggunakan blokade sebagai satu-satunya senjata paling ampuh untuk memaksa AS mencabut sanksi.
    • Pertarungan Harga Diri: Iran merasa berhak mengatur selat tersebut karena berada di wilayah perairannya. Sebaliknya, AS dan dunia internasional mengacu pada hukum laut (UNCLOS) bahwa itu adalah perairan internasional.
    • Kompensasi Perang: Iran meminta "biaya koordinasi" atau ganti rugi perang dari kapal-kapal yang lewat. Bagi AS, menyetujui ini sama saja dengan mengakui kekalahan dan tunduk pada pemerasan Iran.
  3. Lingkaran Setan "Siapa yang Berhenti Duluan"
    • Iran berkata: "Kami akan buka blokade dan bicara nuklir JiKA sanksi dicabut dan aset kami cair."
    • AS berkata: "Kami akan cabut sanksi JiKA blokade dibuka dan uranium diserahkan ke luar negeri."
Karena tidak ada pihak yang mau melangkah duluan tanpa jaminan (garansi), proposal perdamaian dari Pakistan pun akhirnya tertahan. Isu nuklir menjadi hulu masalahnya (ideologi/keamanan), sedangkan blokade Selat Hormuz menjadi hilirnya (dampak ekonomi/fisik).

Analisis mengenai posisi Israel dalam kebuntuan ini menunjukkan bahwa mereka bukan sekadar pengamat, melainkan "kekuatan penyeimbang" yang secara aktif berusaha memastikan agar diplomasi AS-Iran tidak berakhir dengan kemenangan strategis bagi Teheran.
Berikut adalah poin-poin utama analisis posisi Israel per Mei 2026:
  1. Penolakan terhadap Diplomasi Pakistan
    Israel secara terbuka merasa "tidak bahagia" dengan upaya perdamaian yang dimediasi oleh Pakistan. Pemerintahan Benjamin Netanyahu memandang negosiasi tersebut sebagai pengkhianatan terhadap upaya perang yang sudah berjalan. Bagi Israel, kesepakatan apa pun yang masih menyisakan kemampuan nuklir di tangan Iran adalah kegagalan total.
  2. Strategi "Economic Fury" & Runtuhnya Rezim
    Alih-alih gencatan senjata, Israel mendorong AS untuk melanjutkan "Operation Economic Fury"—yaitu kombinasi sanksi ekstrem dan blokade total untuk memicu keruntuhan rezim dari dalam. Israel percaya bahwa selama rezim di bawah Mojtaba Khamenei masih berdiri, ancaman nuklir hanya akan tertunda beberapa tahun, bukan hilang selamanya.
  3. "Garis Merah" yang Tidak Bisa Dinegosiasikan
    Israel telah menetapkan persyaratan kaku kepada AS bahwa setiap perjanjian harus mencakup:
    • Pembongkaran total situs nuklir bawah tanah (seperti Fordo dan Natanz).
    • Pemindahan seluruh cadangan uranium yang diperkaya ke luar wilayah Iran.
    • Tanpa poin ini, Israel menyatakan tidak akan terikat pada gencatan senjata apa pun dan berhak melakukan serangan mandiri.
  4. Melakukan Serangan Sambil Bernegosiasi
    Meskipun AS dan Iran sedang bertukar pesan lewat Pakistan, Israel tetap melancarkan operasi militer secara paralel. Contohnya, pada pekan pertama Mei 2026, Israel melakukan serangan ke Beirut untuk menargetkan komandan Hizbullah, yang oleh Iran dianggap sebagai pelanggaran terhadap semangat deeskalasi.
  5. Dilema Internal: Militer vs. Intelijen
    Terdapat perdebatan di internal Israel sendiri:
    • Militer (iDF): Fokus pada target fisik, yaitu penyingkiran cadangan uranium agar "waktu terobosan" (breakout time) Iran menjadi nol.
    • Intelijen (Mossad): Berargumen bahwa target utama haruslah pergantian rezim, karena teknologi nuklir tetap ada di kepala para ilmuwan meskipun fasilitasnya hancur.
Ringkasan Pandangan Israel
Aspek Posisi Israel
Status Diplomasi Memandang negosiasi Pakistan sebagai jebakan Iran untuk mengulur waktu.
Target Utama Regime change atau pelumpuhan total kemampuan nuklir tanpa sisa.
Hubungan dengan AS Terus menekan Trump agar tidak berkompromi pada isu "pembukaan blokade" tanpa konsesi nuklir.

Posisi Israel inilah yang membuat posisi Donald Trump menjadi sulit: jika ia berdamai dengan Iran melalui kompromi nuklir, ia berisiko kehilangan dukungan keamanan dan politik dari sekutu terdekatnya tersebut. Sebaliknya, mengikuti keinginan Israel berarti AS harus bersiap untuk perang darat jangka panjang yang ingin dihindari oleh Trump.

Reaksi netizen dan analisis pakar menjelang siaran Bola Liar KompasTV malam ini menunjukkan kekhawatiran yang mendalam terhadap potensi eskalasi militer dan dampak ekonominya bagi Indonesia.
Berikut adalah rangkuman tren pembicaraan di media sosial dan opini pakar sebelum acara dimulai:
  1. Reaksi Netizen di Media Sosial
    Di platform seperti X (Twitter) dan Instagram, diskusi publik terbelah menjadi beberapa narasi utama:
    • Kecemasan Harga BBM: Banyak netizen mengaitkan kebuntuan di Selat Hormuz dengan stabilitas ekonomi domestik. Muncul kekhawatiran bahwa jika blokade tidak segera dibuka, pemerintah Indonesia terpaksa akan menaikkan harga BBM akibat lonjakan harga minyak dunia.
    • Sentimen Anti-Perang vs. Kedaulatan: Sebagian netizen mendukung sikap keras Iran sebagai bentuk pertahanan kedaulatan (tagar #KedaulatanIran), sementara yang lain mengkritik kebijakan Donald Trump yang dianggap "keras kepala" dan membahayakan stabilitas global.
    • Ejekan terhadap Kekuatan Militer: Video pernyataan mantan komandan iRGC yang mengejek ketakutan AS untuk menyeberangi Selat Hormuz menjadi viral, memicu debat panas mengenai perbandingan kekuatan angkatan laut kedua negara.
  2. Analisis Pakar Pra-Siaran
    Para pakar yang dijadwalkan hadir malam ini telah memberikan beberapa poin awal di media sosial:
    • Wibawanto Nugroho (Pakar Geopolitik): Menyoroti strategi "Maximum Pressure" Trump periode kedua yang lebih agresif menuju denuklirisasi menyeluruh. Ia menekankan bahwa Indonesia harus memperkuat "Resilient Non-Alignment" agar tidak terpaksa memilih kubu di tengah tekanan ekonomi global.
    • Anton Aliabbas (CiDE): Mengidentifikasi bahwa Selat Hormuz adalah "kartu as" Iran dalam negosiasi. Menurutnya, kegagalan negosiasi Islamabad terjadi karena AS gagal memperhitungkan betapa vitalnya kendali selat tersebut bagi harga diri nasional Iran.
    • Dinna Prapto Raharja (Synergy Policies): Menyoroti dampak global jika kebuntuan ini menarik keterlibatan China dan Rusia (Ambang Batas Ketiga), yang bisa mengubah konflik regional menjadi krisis keamanan global yang jauh lebih besar.
  3. Isu yang Paling Banyak Diperdebatkan
    Poin yang paling banyak dibicarakan sebelum siaran adalah "Deadlock 72 Jam". Publik menantikan apakah program malam ini akan memberikan bocoran mengenai pergerakan militer nyata AS (seperti "Project Freedom") atau justru ada sinyal kompromi baru dari jalur belakang Pakistan.
Saran: Saat menonton nanti, perhatikan bagian "Key Takeaways" dari Wibawanto Nugroho yang biasanya merangkum implikasi strategis bagi ketahanan nasional Indonesia secara spesifik.

Anda bisa menyaksikan program Bola Liar secara langsung malam ini, 8 Mei 2026 pukul 20:30 WiB, melalui beberapa platform resmi berikut:
Tautan Streaming Resmi
  • YouTube KompasTV: Anda bisa menonton siaran langsung 24 jam dan rekaman program di kanal YouTube resmi KOMPASTV. Biasanya, mereka juga menyediakan tautan khusus untuk segmen Bola Liar di daftar putar BOLA LiAR - YouTube.
  • Website Resmi Kompas TV: Akses langsung melalui fitur Live Streaming Kompas.tv untuk kualitas siaran yang stabil.
  • Vidio.com: Jika Anda menggunakan aplikasi Vidio, silakan kunjungi saluran Kompas TV Live di Vidio yang tersedia secara gratis.
Sebagai tambahan, jika Anda ingin berinteraksi atau melihat cuplikan diskusi narasumber sebelumnya, Anda bisa memantau akun Instagram resmi mereka di @bolaliar_kompastv.

"Hingga saat ini, posisi tawar antara Amerika Serikat dan Iran masih berada di titik buntu yang membahayakan stabilitas energi global. Apakah proposal damai Pakistan mampu melunakkan ego kedua negara, ataukah Selat Hormuz akan menjadi saksi pecahnya konflik yang lebih besar? Simak rangkuman hasil diskusi mendalam para pakar dalam program Bola Liar KompasTV malam ini. Update hasil diskusi akan segera diperbarui setelah siaran berakhir."

Saksikan diskusi selengkapnya melalui Livestreaming YouTube #KompasTV!.

Have a great day!

Disclaimer:
"Google Ai (Mode) may be inaccurate or mistakes, misleading, or offensive. so double-check responses. Learn more.

Related Articles: [Show]





Bagi Sahabat(2x) yang ingin & berbagi dipersilahkan untuk melangkapi, dengan menuliskan komentar di bawah :)

Semoga Bermanfaat, Terima Kasih !!!
Jazakumullohu Khouiron Katsiron


Thanks for Stopping By !
#FreePalestine #StayHealty #BeHappy
wp-thanks



Comments

Popular posts from this blog

Marhaban Ya Ramadhan !

Kultum (Tausiah) dan Sholat Tarawih di Masjid Daarut Tauhiid Bandung

MeGUi 6.6.6.6 Development Updates Software