Kajian Rutin Majelis Percikan Iman (MPi) Masjid Peradaban Percikan Iman Arjasari
Kajian Rutin
Majelis Percikan Iman (MPi) pada hari
Ahad, 25 Januari 2026, mengangkat tema
"Menciptakan Jejak Kebaikan".
Berikut adalah detail mengenai pelaksanaan kajian tersebut:
- Tema: Menciptakan Jejak Kebaikan
- Pengisi Materi: Ustadz Ihsan Kamil., S.PD.i
- Waktu: Dimulai pagi hari, biasanya diawali dengan kegiatan Tahsin pada pukul 07.00 WiB sebelum materi utama disampaikan.
- Lokasi: Berlangsung di Masjid Peradaban Arjasari, Bandung.
- Akses Live Streaming: Acara ini disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube resmi Majelis Percikan Iman.
Ringkasan Materi:
Kajian ini menekankan pentingnya setiap individu untuk meninggalkan rekam jejak atau legacy yang baik selama hidupnya. Materi ini mengajak jemaah untuk berfokus pada perbuatan-perbuatan positif yang dapat menjadi pahala jariyah dan memberikan manfaat berkelanjutan bagi orang lain bahkan setelah seseorang wafat.
Apakah Anda memerlukan
ringkasan materi lebih detail atau informasi mengenai
jadwal kajian berikutnya di Masjid Peradaban?
Yes, provide summary
Berikut adalah ringkasan materi kajian
"Menciptakan Jejak Kebaikan" Majelis Percikan Iman (
25 Januari 2026):
- Filosofi Jejak Kebaikan (Legacy)
Seorang Mukmin didorong untuk tidak sekadar hidup, tetapi meninggalkan pengaruh positif. Jejak ini disebut sebagai Atsar, yakni bekas atau peninggalan yang tetap ada setelah seseorang tiada. Ustaz menekankan bahwa dunia adalah tempat menanam, dan hasilnya adalah apa yang kita tinggalkan untuk generasi mendatang.
- Pilar Utama dalam Meninggalkan Jejak
Ada tiga instrumen utama yang ditekankan untuk menciptakan jejak yang tak terputus:
- Ilmu yang Bermanfaat: Mengajarkan kebaikan atau memberikan solusi atas permasalahan umat akan terus mengalirkan pahala selama ilmu tersebut diamalkan.
- Harta sebagai Jembatan (Sedekah Jariyah): Membangun fasilitas umum atau mendukung dakwah (seperti pembangunan Masjid Peradaban) adalah cara konkret mengabadikan harta.
- Keluarga Shalih: Mendidik keturunan yang mendoakan orang tuanya adalah investasi jejak kebaikan yang paling dekat.
- Strategi "Fastabiqul Khairat"
Dalam kajian ini, jemaah diingatkan untuk:
- Fokus pada Kualitas: Bukan seberapa lama kita hidup, tapi seberapa berkualitas manfaat yang diberikan.
- Konsistensi (Istiqomah): Kebaikan kecil yang dilakukan secara rutin lebih dicintai Allah daripada kebaikan besar yang hanya dilakukan sekali.
- Niat Ikhlas: Menjaga agar jejak yang ditinggalkan murni karena Allah, bukan demi pujian atau popularitas di dunia.
- Relevansi Sosial
Kajian ini juga mengajak jemaah untuk peka terhadap lingkungan sosial. Menciptakan jejak bisa dimulai dari hal sederhana, seperti menjadi pribadi yang memudahkan urusan orang lain atau memberikan inspirasi positif di media sosial.
Anda dapat menyaksikan tayangan ulangnya (rekaman) secara lengkap kajian ini di kanal YouTube resmi Majelis Percikan Iman.
Menciptakan Jejak Kebaikan menurut pandangan Islam
Dalam Islam, konsep menciptakan
jejak kebaikan dikenal dengan istilah
Atsar (bekas/peninggalan).
Islam mengajarkan bahwa setiap manusia akan mati, namun jejak atau pengaruh dari perbuatannya akan tetap tercatat dan terus mengalirkan pahala jika bersifat positif.
Berikut adalah poin-poin utama pandangan Islam mengenai cara menciptakan jejak kebaikan:
- Prinsip Pahala Jariyah
Dasar utama dari jejak kebaikan adalah konsep amal jariyah, yaitu amal yang pahalanya terus mengalir meskipun pelakunya sudah meninggal dunia. Hal ini berlandaskan hadis Rasulullah SAW mengenai tiga perkara yang tidak terputus:
- Sedekah Jariyah: Wakaf atau harta yang manfaatnya dirasakan orang banyak (seperti membangun masjid, sumur, atau jalan).
- Ilmu yang Bermanfaat: Mengajarkan kebenaran, menulis buku, atau memberikan nasihat yang diamalkan orang lain.
- Anak Shalih: Mendidik generasi yang senantiasa mendoakan orang tuanya.
- Konsep "Atsar" (Rekam Jejak Digital dan Spiritual)
Dalam Al-Qur'an Surah Yasin ayat 12, Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan (atsarahum)..."
Ayat ini menegaskan bahwa Allah mencatat bukan hanya amal yang sedang dilakukan, tetapi juga dampak atau pengaruh (jejak) yang ditinggalkan dari perbuatan tersebut. Jika kita memulai suatu kebiasaan baik lalu diikuti orang lain, kita mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka.
- Menjadi "Miftahul Khair" (Pembuka Pintu Kebaikan)
Rasulullah SAW bersabda bahwa ada orang-orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu kejahatan. Menciptakan jejak kebaikan berarti:
- Memberikan inspirasi positif melalui perilaku (uswah hasanah).
- Menjadi pelopor dalam gerakan sosial atau kemanusiaan.
- Memastikan keberadaan kita di dunia memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar (Khairunnas anfa’uhum linnas).
- Jejak Melalui Akhlak Mulia
Jejak kebaikan tidak selalu berupa materi besar. Kenangan baik yang ditinggalkan dalam hati orang lain karena tutur kata yang santun dan bantuan yang tulus juga merupakan jejak yang berat timbangannya di akhirat. Islam menekankan agar kita tidak meninggalkan beban atau luka bagi orang lain saat kita sudah tiada.
Cara Memulainya Sekarang:
- Tulislah hal baik di media sosial agar menjadi ladang dakwah.
- Waqafkan sebagian harta ke lembaga terpercaya seperti Wakaf Percikan Iman.
- Ajarkan satu kebaikan (seperti satu ayat Al-Qur'an) kepada orang lain.
Respons Google Ai (Mode) mungkin berisi kesalahan.
Pelajari lebih lanjut
Comments
Post a Comment
Please Notices! Write NAME (nick name) to make it easier to respond to comments that you write. Comments are rude, racist, and humiliation may not be passed and it will be deleted without warning ...
* We respect your privacy and we will never share your personal information with anyone. We will never send you SPAM emails.