[LiVE KAJiAN TEMATiK] Aktualisasi Komunikasi di Bulan Suci

[LiVE KAJiAN TEMATiK] Aktualisasi Komunikasi di Bulan Suci
BismillahirRahmanirRahim

Google Ai (Mode) Overview


Kajian tematik "Aktualisasi Komunikasi di Bulan Suci" bersama Ustadz Dr. Aam Amirudin, M.Si. merupakan bagian dari rangkaian persiapan menyambut Ramadan 1447 H.

Berikut adalah ringkasan informasi dan poin penting dari kajian tersebut:

Jadwal & Lokasi Pelaksanaan
  • Waktu: Kamis, 19 Februari 2026, pukul 08.00 WiB s.d. selesai.
  • Tempat: Masjid Agung Trans Studio Bandung (TSB), Jl. Gatot Subroto No. 289 A, Bandung.
  • Media: Siaran ulang dapat disimak melalui kanal YouTube Aam Amirudin Official.
Intisari Kajian
Dalam kajian ini, Ustadz Aam menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga momentum untuk memperbaiki kualitas interaksi sosial melalui "Komunikasi yang Berbobot". Beberapa poin utama yang dibahas meliputi:
  • Landasan Ilmu dalam Berbicara: Komunikasi yang baik harus didasarkan pada ilmu agar pembicaraan menjadi berkualitas dan memberikan hikmah bagi pendengarnya.
  • Menata Hati melalui Lisan: Menghindari perkataan yang sia-sia (laghwun) dan kotor (rafats) sebagai bentuk penjagaan terhadap pahala puasa.
  • Etika Komunikasi Keluarga: Bagaimana membangun dialog yang harmonis dengan pasangan dan anak-anak selama bulan suci untuk menciptakan suasana rumah tangga yang religius.
  • Komunikasi Spiritual: Memperbaiki "komunikasi" dengan Allah SWT melalui peningkatan intensitas membaca Al-Qur'an dan doa yang tulus.
Kajian ini mengajak jamaah untuk menjadikan Ramadan sebagai madrasah untuk mengubah gaya berkomunikasi menjadi lebih santun, jujur, dan penuh manfaat, meneladani akhlak Rasulullah ﷺ yang lembut.

Dalam syariat Islam, "Aktualisasi Komunikasi di Bulan Suci" bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian integral dari kesempurnaan ibadah puasa itu sendiri. Puasa yang hanya menahan lapar namun mengabaikan lisan disebut oleh Rasulullah ﷺ sebagai puasa yang sia-sia.
Berikut adalah landasan syariat mengenai komunikasi selama Ramadan:
  1. Menjaga Puasa dari Rafats dan Jahl
    Syariat melarang keras segala bentuk komunikasi yang buruk saat berpuasa. Rasulullah ﷺ bersabda:
    "Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor (Rafats) dan janganlah ia berteriak-teriak/berbuat bodoh (Jahl)." (HR. Bukhari & Muslim).

    • Rafats: Perkataan yang berkaitan dengan syahwat atau tidak senonoh.
    • Jahl: Perkataan yang kasar, memancing pertengkaran, atau tidak beradab.
  2. Strategi Menghadapi Provokasi (Self-Control)
    Syariat memberikan panduan konkret jika kita dipancing untuk berdebat atau dicaci maki saat puasa. Seseorang diperintahkan untuk berkata pada dirinya sendiri atau orang lain:
    "Inni sha-imun" (Sesungguhnya aku sedang berpuasa).
    Ini adalah bentuk komunikasi internal untuk menjaga stabilitas emosi agar pahala puasa tidak gugur.
  3. Komunikasi Berbasis Qaulan Sadida
    Aktualisasi komunikasi di bulan suci mengacu pada prinsip-prinsip dalam Al-Qur'an:
    • Qaulan Sadida: Berkata benar dan jujur (QS. Al-Ahzab: 70).
    • Qaulan Ma’rufa: Berkata yang baik dan santun (QS. An-Nisa: 5).
    • Qaulan Layyina: Berkata yang lemah lembut, terutama saat menasihati (QS. Thaha: 44).
  4. Menghindari Ghibah dan Namimah
    Membicarakan keburukan orang lain (ghibah) atau mengadu domba (namimah) secara syariat dapat menghanguskan pahala puasa. Meskipun puasanya secara hukum fiqih tetap sah (tidak batal), namun di sisi Allah, puasa tersebut tidak bernilai apa-apa kecuali lapar dan haus.
  5. Peningkatan Komunikasi Vertikal (Dzikir & Tilawah)
    Aktualisasi komunikasi yang paling tinggi di bulan Ramadan adalah memperbanyak interaksi dengan Al-Qur'an (Kalamullah) dan memperbanyak doa. Syariat memposisikan doa orang yang berpuasa sebagai doa yang tidak tertolak (Mustajab), terutama saat menjelang berbuka.
Ustadz Aam Amirudin dalam kajian Percikan Iman sering menekankan bahwa kualitas puasa kita tercermin dari kualitas kata-kata kita.

Mengendalikan emosi di tempat kerja saat berpuasa adalah salah satu tantangan terbesar dalam Aktualisasi Komunikasi. Secara syariat dan psikologi Islam, bekerja saat berpuasa dinilai sebagai jihad nafsu (melawan diri sendiri).

Berikut adalah panduan praktis berdasarkan prinsip Fiqih dan Akhlak Islam:
  1. Memahami Hakikat "Puasa Lisan"
    Secara syariat, jika Anda terpancing emosi oleh rekan kerja atau atasan, Anda memiliki "benteng" kata-kata. Sebagaimana pesan Rasulullah:

    "Jika seseorang mencelamu atau mengajakmu bertengkar, katakanlah: 'Aku sedang berpuasa' (Inni sha-imun)."

    Praktik di kantor: Anda tidak harus mengucapkannya dengan keras jika terasa canggung. Ucapkanlah dalam hati sebagai pengingat bahwa pahala puasa Anda jauh lebih berharga daripada memenangkan sebuah argumen yang emosional.
  2. Manajemen Reaksi (The 3-Second Rule)
    Dalam syariat, menahan amarah (Kadhul Ghaiz) adalah ciri orang bertaqwa (QS. Ali Imran: 134).
    • Berhenti sejenak: Sebelum membalas email yang provokatif atau menjawab teguran, diamlah selama 3 detik.
    • Istigfar: Gunakan waktu diam tersebut untuk beristigfar. Ini akan menurunkan detak jantung dan menjernihkan pikiran.
  3. Mengubah Posisi Fisik
    Syariat memberikan tips teknis saat amarah memuncak (HR. Abu Dawud):
    • Jika Anda sedang berdiri saat marah, duduklah.
    • Jika masih marah saat duduk, berbaringlah.
    • Jika belum reda, berwudhulah. Air wudhu secara medis dan syariat mampu mendinginkan syaraf dan memadamkan "api" amarah dari setan.
  4. Mengatur Ritme Kerja dan Istirahat
    Kurangnya asupan glukosa ke otak saat siang hari (pukul 14.00 - 16.00) sering kali membuat kita lebih cepat tersinggung (cranky).
    • Prioritas: Selesaikan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi di pagi hari.
    • Power Nap: Gunakan waktu istirahat siang untuk tidur sejenak (15-20 menit). Dalam Islam disebut Qailulah, yang sangat membantu mengembalikan kestabilan emosi untuk sesi sore.
  5. Prinsip "Husnudzon" (Berprasangka Baik)
    Banyak konflik di tempat kerja bermula dari salah paham. Ramadan adalah saatnya melatih Husnudzon.
    • Jika instruksi atasan terasa berat, anggaplah itu sebagai sarana penggugur dosa.
    • Jika rekan kerja kurang kooperatif, anggaplah mereka mungkin juga sedang kelelahan karena berpuasa.
Saran dari Ustadz Aam Amirudin:
Jadikan pekerjaan Anda sebagai Ibadah. Jika niat awalnya adalah mencari nafkah yang halal demi keluarga, maka setiap rasa lelah dan upaya menahan sabar di kantor akan dikonversi menjadi pahala yang berlipat ganda di bulan Ramadan.

Semoga amal ibadah Anda pada Ramadan 1447 H berjalan lancar, penuh keberkahan, dan menjadi sarana peningkatan ketaqwaan yang nyata! ✨🌙

Google Ai (Mode) can make mistakes, so double-check responses.

Watch Streamed at @AamAmiruddinOfficial



Courtesy: Dr. Aam Amiruddin, M.Si. & Tim Manajemen Percikan Iman (Aam Amiruddin Official)
#MajelisPercikanIman #UstadzAamamirudin #PercikanIman #MPi #KhazanahDakwah #MasjidAgungTransStudio #GatotSubroto #Bandung #JawaBarat

Related Articles: [Show]





Bagi Sahabat(2x) yang ingin & berbagi ilmu dipersilahkan untuk melangkapi, dengan menuliskan komentar di bawah :)

Semoga Bermanfaat, Terima Kasih !!!
Jazakumullohu Khouiron Katsiron


Thanks for Stopping By !
#FreePalestine #StayHealty #BeHappy
wp-thanks



Comments

Popular posts from this blog

Marhaban Ya Ramadhan !

Kajian Aqidah MQFM - Tingkat Keimanan Sesuai Tingkat Ketakwaan bersama Ustadz Abu Yahya Purawanto

MotoGP Race - PERTAMiNA Grand Prix of Indonesia (2025) TRANS7-HD